Halo, selamat pagi. Hari ini saya ingin berbagi pengalaman  yang saya alami dalam rangka menuju menjadi Ph.D Student. Mudah2an yang saya bagikan ini bermanfaat bagi kalian semua ya…..

Tidak ada mimpi yang berlebihan. Mimpi itu gratis, dan silakan bermimpi setinggi tingginya. Sudah sejak lama, saya memimpikan untuk menjadi seorang Doktor. Sebagai seorang dosen, cita-cita terbesar saya adalah menjadi seorang guru besar, profesor. Kata ibu saya, profesor itu jenderalnya para dosen. Dan saya ingin mengejar impian itu. Setahun lalu, saya mulai bergerak untuk mewujudkan keinginan itu. Saya lihat, Lilo (anak bungsu saya) sudah besar, dan sudah bisa ditinggal pergi2 jauh. Dan inilah mungkin saat yang tepat untuk meraih harapan saya yang terpendam lama.

 

Menggali informasi sebanyak banyaknya

Yang pertama saya lakukan adalah mencari kampus idaman. Dan kampus incaran saya adalah UGM. Lama sekali saya mendambakan bisa kuliah disitu. Maka, saya mulai mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang dosen, fakultas, prodi, budaya, dan segala tetek bengek tentang UGM. Dan sampailah saya pada seorang teman, bernama Lukita Yulianti (teman masa kecil saya di Magelang) yang kebetulan suaminya kuliah di fakultas MIPA prodi Ilmu Komputer. Jadi, dia lah tempat saya bertanya segala macam tentang Ilmu Komputer. Hebatnya lagi, meskipun yang kuliah itu suaminya, dia bisa memberi gambaran detil tentang ujian masuk, memilih topik, sampai ke karakter dosen2 di Ilkom… 😀 (makasih ukiiiii).

Mencari topik penelitian

Kuliah S3 itu berbasis riset, jadi, jangan maju untuk mendaftar kalau belum tau mau meneliti apa. Nah, ngomong-ngomong soal riset, setahun lalu, sebenarnya saya masih bingung juga mau meneliti apa. Maka, saya mulai dari membaca bbrp file jurnal infotel yang pernah saya review. Kebetulan, saya pernah membaca satu topik menarik mengenai heuristic evaluation. Itu salah satu metode pengukuran perangkat lunak dari segi usability oleh para pakar. Yang belakangan saya tau, itu tulisan hasil karya kolega saya di SPM, dan adik kelas saya di ITB, dialah Emi Iryanti (tengkyu sistaaa). Karena saat me review itu kan pake metode blind review, jadi gak tau siapa penulisnya. Sekarang, saya jadi membayangkan, apa jadinya kalau saya gak baca paper itu? apa jadinya kalau saya gak me review paper itu? mungkin topik penelitiannya bukan tentang usability. Waktu itu bu Risa Farrid Christianti, Ketua LPPM kami sedang mencari seorang reviewer untuk jurnal INFOTEL, beliau kemudian menawarkan pada saya, dan saya bersedia. Beliau katakan, ini gak ada honornya, tapi saya bilang gak papa, buat pengalaman aja. Dan alhasil, saya menjadi satu-satunya reviewer junior yang mungkin kualitasnya jauh dari reviewer2 lain. BTW terima kasih bu risa, sudah memberi kesempatan saya menjadi reviewer sampai sekarang…..

reviewer

 

Menggali lebih dalam

Topik penelitian saya sudah mantap tentang usability, yang merupakan bagian dari ilmu Human Computer Interaction. Maka, yang saya lakukan adalah mencari paper yang berhubungan dengan topik itu. Selama hampir setahun saya mencari, download, saya baca, saya terjemahkan dan saya ringkas. untuk mengakses paper paper terbaru, saya minta bantuan bu Anggun Fitrian dan pak Arief Hendra, juga pak Agus Priyanto yang kebetulan punya akun ke jurnal IEEE dan jurnal ACM, sehingga saya punya paper2 baru dan gratis untuk memperkaya literatur saya. Makasih yaaaa, kalian luar biasssaaaaa…..

Beberapa paper dan materi tentang HCI juga saya baca, dan saya dapatkan dari dosen pembimbing saya dulu, Prof. Dr. Soedito Adjiesoedarmo, M.Kom, kebetulan beliau pengampu mata kuliah HCI di STMIK Widya Utama Purwokerto. Hubungan saya dengan beliau cukup dekat. Beliaulah yang merelakan teras rumahnya di perumahan dosen UNSOED Grendeng untuk kami ubah menjadi sebuah warung kecil, cukup untuk tambahan biaya kuliah selama di S1.

Teori-teori yang berhubungan dengan usability seperti TAM, perilaku manusia, juga saya kumpulkan dan saya baca. Paper-paper itu saya kumpulkan dari seorang Ph.D Student, pak Irwan Susanto, kolega saya yang sudah saya kenal sejak lama. Juga dari paper tugas2 mahasiswa dari bantuan seorang teman, dosen HCI Sisilia Thya Safitri sangat membantu saya. Thanks a bunch dear!

Ternyata, topik tentang usability sudah banyak dibahas, dan saya masih belum menemukan titik terang, di bagian mana saya harus membuat satu keterbaruan dari metode metode tersebut. Pada akhirnya, saya menemukan sebuah paper yang menyatakan, bahwa pengujian usability akan lebih efektif jika dilakukan dengan menggabungkan beberapa metode, dan saya menemukan, penggabungan pengujian oleh user dan pakar, sepertinya menarik dan belum banyak dibahas.

Carilah partner 

Pertemuan saya dengan seorang dosen lulusan Malaysia, Ridwan Pandiya, membuat saya semakin menuju ke sebuah titik terang. Kebetulan kami punya cita-cita yang sama (menjadi Ph.D), dan kami punya banyak kesamaan2 dalam menjalani hidup, juga dalam memaknainya. Lalu, sampailah kami pada obrolan tentang penelitian. Kami menjadi partner penelitian internal tentang webometrics dengan pendekatan metode logarithmic fuzzy preference programming. Sebenarnya, kami menggabungkan pengetahuan saya tentang webometrics dan pengetahuan dia tentang optimasi. Dan dari sini, muncullah ide untuk mengoptimalkan persoalan usability dengan pendekatan metode lfpp.

Mulailah menyusun proposal

Kesukaan saya pada dunia tulis menulis, entah itu nulis status, nge blog, bikin buku, bikin catatan di buku diary, ternyata banyak membantu saya dalam menyusun proposal. Biasanya, saya mulai dari menulis judul secara kasar, lalu turun ke latar belakang, metodologi sampai ke kesimpulan. Setelah selesai, mintalah orang lain membacanya, dan mintalah masukannya. Saat saya minta teman saya, bu Elisa Usada untuk membaca, dia memberi masukan tentang novelty saya kurang tajam, saya perbaiki lagi, dan sempat mengendap beberapa minggu sebelum saya submit ke UGM.

Carilah promotor

Dari hasil nge-poin web UGM, sampailah saya pada seorang dosen bernama Dr. Paulus Insap Santosa, beliau adalah pakar HCI, dan saya berharap beliau bisa membaca dan memberi masukan pada proposal saya. Tidak diduga, saya mendapatkan sebuah undangan untuk menghadiri seminar beliau, kiat menulis jurnal internasional, dan akhirnya kami berjumpa dalam sebuah pertemuan jamuan makan malam bersama teman-teman, terima kasih pak Danny Kurnianto dan pak Dadiek Pranindito yang sudah membuat acara itu sukses. Kebetulan yang luar biasa bukan? Kami banyak berbincang dan beliau memberi banyak masukan. Tapi, ternyata beliau ber home base di prodi teknik elektro, sehingga, tidak memungkinkan untuk menjadi promotor, akan tetapi, beliau bisa jadi co promotor saya.

Perjalanan mencari promotor saya lanjutkan dengan mengintip web ilmu komputer, dan saya menemukan Prof. Sri hartati, karena bidang saya ada hubungannya dengan kepakaran beliau, fuzzy logic. Beliau pun menyambut baik, meskipun belum sempat membaca proposal saya.

Buatlah sebaik mungkin

Akhirnya batas akhir pengumpulan proposal tiba, saya mencetak proposal sebanyak 7 buah, saya desain covernya se menarik mungkin supaya menggoda orang untuk membacanya. Saya jilid laminating dan pake ring biar berkesan “keniatan” saya, dan satu lagi, saya lampirkan lembar pemeriksaan dokumen anti plagiat menggunakan software plagiarism detector. Saya antar sendiri ke UGM, dan diterima oleh petugas administrasinya.

Proses tak akan membohongi hasil

Usaha yang tekun, hubungan baik dengan teman-teman, dan doa serta restu dari suami, keluarga, orang tua, mertua ternyata membuahkan hasil yang manis. Tanggal 29 Juni 2016, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa pascasarjana UGM fakultas ilmu komputer.

pengumuman

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, genap di usiaku yang ke 34 ini, Engkau berikan aku hadiah yang indah. Entah kenapa dari kemarin serasa dunia nampak lebih bersahabat, awan2 tersenyum riang, pohon2 seakan mengajak bersalaman, burung2 bernyanyi senang, seakan ikut merayakan kebahagiaan ini. Saat ini saya masih menunggu penetapan beasiswa dari DIKTI, mudah2an lolos dan di danai ya… 😀

Hari ini, saya diberikan satu perjalanan hidup, yang kalau saya telusuri lebih dalam lagi, inilah skenario Tuhan yang luar biasa, kebetulan-kebetulan itu begitu runtut dan indah. saya tahu hari hari ke depan untuk menjalaninya tidak akan mudah, tapi bukan berarti tidak dapat dilalui. Tetap Optimis, dan berprasangka baik pada Nya, karena sesungguhnya, Tuhan itu sebagaimana prasangka hambanya.

 

Purwokerto, 30 Juni 2016

 

Bagi kalian yang ingin melanjutkan studi pasca sarjana di UGM, beberapa persyaratan diantaranya adalah harus lulus tes PAPs (Potensi Akademik Pasca Sarjana). Untuk program magister, skor minimal 500, dan untuk program doktoral, skor minimal 550, *meskipun secara lugas tidak disebutkan di web admisi universitas, karena bagi yang skornya kurang dari itu, dapat mengulang kembali tesnya pada saat menempuh kuliah.

Selain sertifikat tes PAPs, kalian juga boleh menggunakan Sertifikat hasil Tes Potensi Akademik (TPA) BAPPENAS atau Tes Kemampuan Dasar Akademik Himpunan Psikologi Indonesia (TKDA HIMPSI) dibuktikan dengan sertifikat yang masih berlaku, yaitu maksimum 2 tahun dari tanggal dikeluarkannya sertifikat, (Syarat pendaftaran mahasiswa pascasarjada di UGM bisa dilihat disini).

Untuk TPA BAPPENAS, saya sudah pernah ikut pada saat mendaftar di ITB dulu, dan soal2nya hampir mirip kok sama PAPs nya UGM ini. Dan ini beberapa gambaran umum mengenai tes PAPs :

 

  1. Tes PAPs diselenggarakan oleh fakultas psikologi, unit pengembangan alat psikodiagnostika. Biasanya ada jadwal pelaksanaan tes yang telah ditentukan pada tanggal tanggal tertentu. Bisa dilihat disini.
  2. Soal tes dibagi menjadi 3 : kemampuan verbal, kemampuan kuantitatif, dan kemampuan penalaran.
  3. Kemampuan verbal terdiri dari sinonim, antonim, dan hubungan antara dua kata.
  4. Kemampuan kuantitatif terdiri dari soal hitungan sederhana, seperti prosentase, deret bilangan, dst
  5. Kemampuan penalaran terdiri dari soal-soal bergambar, seperti menebak pola berikutnya.
  6. Sebelum melakukan tes, siapkan fisik dan mental. Berlatihlah soal-soal PAPs, atau soal-soal TPA, karena hampir sama isinya.
  7. Baca vocab sinonim, antonim yang biasa digunakan dalam tes potensi akademik.
  8. Bawa alat tulis (pensil 2B, penghapus, pulpen), kartu tes, KTP dan foto 3 x 4.
  9. Dalam tes PAPs, anda tidak diharapkan untuk dapat mengerjakan semua soal, tapi yang paling penting adalah, anda mengerjakannya dengan teliti dan tepat. Karena memang soal yang di desain cukup banyak dengan waktu yang minim.
  10. Karena hasil tes diumumkan setelah kurang lebih 2 minggu, pastikan anda memilih jadwal yang tepat, jangan mepet waktu pendaftaran ya!

daaaan, tarraaaaaaa, hasil PAPs saya sudah bisa dilihat seperti ini

paps ugm

soal-soal yang saya pelajari 3 hari sebelum tes bisa di download disini :

latihan-tpa-snmptn-2011

latihan-tpa-snmptn-2011-kunci

latihan-tpa-snmptn-2012-kode-01

latihan-tpa-snmptn-2012-kode-02

soal-tpa-snmptn-2009-kode-192

soal-tpa-snmptn-2009-kode-392

soal-tpa-snmptn-2009-kode-394

 

celana jins

Mungkin banyak yg tanya kenapa skr saya agak kurusan…

Selama bbrp bulan terakhir, saya mulai menyadari pentingnya kesehatan. Alhamdulillah saya didekatkan dgn teman2 yg peduli dengan pola hidup sehat. Saya kenal pilates dan mulai menyukai olah raga ini dari Sisilia Safitri
Sejak akhir thn 2015 saya rutin olahraga 2 kali seminggu. Soal pola makan, saya mengikuti anjuran bu endang budiasih ttg hypno slimming ala rosul, makan setelah terasa lapar, dan berhenti sebelum kenyang. Lagi pula, alhamdulillah dkt sama teman2 yg suka makanan sehat seperti bu dwi januarita dan pak ridwan pandiya. Itu aja. So simple. Gak pake jamu. Gak pake diet. Gak pake ribet.

*mudah mudahan sehat terus ya
*kalau saya bisa, anda juga pasti bisa
*masih hrs berjuang sekitar 5 kilo lagi biar ideal
*ukuran celana turun 2 nomer

TOEFL (Test of English as a Foreign Language) merupakan ujian kemampuan berbahasa Inggris (logat Amerika) yang diperlukan untuk mendaftar masuk ke perguruan tinggi, baik di Indonesia maupun di negara2 lain seperti Amerika dan Canada, baik untuk program S1, S2 maupun S3.

Nah, untuk bisa masuk ke beberapa perguruan tinggi keren di Indonesia, jenjang S2 mensyaratkan skor TOEFL ITP sebanyak 450, sedangkan untuk jenjang S3 skornya minimal 500. Nah, kalau yang pengen kuliah di Luar Negeri, skor TOEFL nya minimal 550. Lalu, bagaimana caranya supaya kita dapat mencapai skor TOEFL yang kita inginkan?

  1. Tidak ada cara lain selain belajar, bagaimanapun, practise makes perfect! Sebelum Ujian TOEFL, satu bulan sebelumnya, saya belajar dari latihan2 soal. Saya juga belajar vocabulary yang biasa dipakai dalam ujian TOEFL. Setiap hari, sempatkan satu jam untuk belajar. Tetapkan jadwal tertentu yang harus anda patuhi sendiri. Kalau saya, biasanya begitu datang ke kantor, pagi jam setengah 8 sampai setengah 9 (sebelum ngajar) saya pakai buat berlatih soal. Bagi lah minggu-minggu dalam satu bulan tersebut sebagai berikut : seminggu belajar vocab, seminggu belajar listening, seminggu belajar structure, seminggu belajar reading.
  2. Karena kemampuan listening dan reading adalah salah satu skill, itu hanya bisa didapatkan jika anda rajin membaca dan rajin mendengar bahasa tersebut. Jadi, kalau kalian suka banget dengerin lagu2 barat, nonton film2 barat, dan suka liat channel TV dari luar, itu sangat membantu dalam listening, setidaknya kita tidak asing lagi dengan cara pengucapan “bule” dalam sesi listening. Nah, tambahkan skill suka membaca artikel berbahasa Inggris, apapun bentuknya, entah tips, trik tertentu, berita, dll.
  3. Setelah berusaha, berdoalah, karena keyakinan kita pada bantuan Tuhan akan membantu kita dalam memantapkan diri melangkah, minta lah restu pada orang tua, dan jangan lupa banyak sedekah.

 

Tips khusus Ujian TOEFL

  1. Carilah tempat penyelenggara ujian TOEFL yang kredibel, bukan yang abal2, karena mereka secara resmi memiliki izin dalam menyelenggarakan ujian. Di Purwokerto setidaknya ada 3 tempat penyelenggaraan ujian (ini update bln februari 2016 kemarin ya):
    • Pusat Bahasa Unsoed (bayarnya 500 ribu, tempatnya di belakang gedung Soemardjito Grendeng), tempatnya sejuk, nyaman, ada peredam suaranya, tapi gak ada TOEFL preparation nya, jadi, dateng langsung ujian. Tes biasanya dilaksanakan hari Minggu, sekali sebulan, pukul 9.30-12.00. Alamat Jl Lapangan Grendeng.
    • IEC, Alamatnya Jl. Ringin Tirto, Bancarkembar, Purwokerto Utara. Bayarnya 600 euy! mahal bgt, ruangannya sempit, dan waktu itu kata teman saya AC nya mati plus berisik, karena lagi ada perbaikan gedung.
    • SPEC, Alamatnya di  JL. H.R Boenyamin, Blok. P2/7, Banyumas (depan RST Wijaya Kusuma). Bayarnya 525 ribu, ruangannya biasa aja, agak sempit, lumayan panas (AC nya gak begitu dingin), tapi ada TOEFL Preparation nya sebanyak 1 sesi. –> saya pilih SPEC, soalnya saya pernah les disini, dan menurut saya meskipun sederhana tapi nyaman di hati.
  2. Setelah membayar dan mendapatkan jadwal ujian, berikutnya anda berlatih dan belajar!
  3. Di SPEC, anda bisa latihan dulu dengan mengikuti tes TOEFL Like, bayarnya cuma 25 ribu doang! ini perlu dicoba minimal sekali, buat nge tes sejauh mana kemapuan kita (*saya nyoba 2 kali skornya 490 dan 493–> mepet banget padahal maunya 500)
  4. Di H-1, pastikan anda dalam keadaan sehat, bahagia (jangan galau apalagi berantem sama pacar), dan tidurlah lebih awal. Siapkan KTP, pensil 2B (2 buah buat cadangan), pulpen, penghapus, dan rautan pensil. Atau kalau mau praktis beli aja yang udah paketan ujian, mereknya saya sarankan Faber Castell atau Steadler (harganya sekitar 25 ribuan)                                                                    steadlerfaber castel
  5. Di Hari H, siapkan minum, makanan kecil (saya beli oreo dan pristine) buat ngganjel perut biar gak keroncongan, terus biar fresh dan segar soalnya pasti haus di tengah2 tes. *ceritanya menguras pikiran dan tenaga   😀 padahal doyan ngemil . Pakai pakaian yang nyaman, sepatu yang nyaman dan kerudung yang udah dicuci *ya elaaah…. biar gak garuk2 gatel pas nggarap ujian, pake parfum biar wangi…..
  6. Jangan lupa bawa tissue biar tangannya gak mengotori lembar jawab komputer, karena kena tangan kita yang keringetan.
  7. Sebelum dibagi kertas ujian, berdoa lagi biar dikasih kelancaran, lalu dengarkan instruksi mbak-mbak yang ngawasin ujian.
  8. Isi lembar jawab sesuai petunjuk, mengikuti arahan dari mbak-mbak pengawas ujian, bagaimana cara menulis nama,  (karena akan dibalik nulisnya, misal tenia wahyuningrum jadi wahyuningrum, tenia) gitu…., pokoknya dalam sesi ini manut wae lah ya…. 😀
  9. Kerjakan soal dengan teliti, kalau di spec boleh di tandai dulu jawaban yang bener, nanti di tebalinya belakangan, jadi kertasnya gak kotor, dan gak menyita waktu, sehingga kita bisa memaksimalkan skor kita.
  10. Kalau sudah selesai, akhiri dengan berdoa lagi.
  11. Begitu keluar ruangan, gak usah dibahas lagi jawabannya apa (* ini penting untuk menjaga kewarasan anda, biar gak stress)
  12. Makan sianglah dengan menu kesukaan anda karena anda perlu menghadiahi diri sendiri setelah bekerja keras (*saya makan bakso yang pedes banget waktu itu).
  13. Tunggulah hasil (kira2 seminggu setelah tes), selama menunggu, anda perlu banyak berdoa dan banyak sedekah 😀

dan, taraaaaaaaa, hasilnya pasti memuaskan! (*meskipun hasilnya masih dibawah temen2 dosen yang lain seperti bu elisa usada, pak eko fajar dan pak ridwan, tapi saya teteup bersyukur, karena gak perlu ngulang tesnya, sudah mencukupi buat mendaftar kuliah dan mencari beasiswa)

 

ayooooo, kalian juga bisaaaaaaaaaa!!!!

sertifikat toefl

 

ternyata listening saya nilainya paling gede, mungkin karena terbiasa menemani anak2 saya nonton disney channel dan menemani hira nonton youtube *jebul ana manfaate yah 😀

bagi yang membutuhkan toefl vocabulary silakan klik disini