Jurnal Juita (UMP) : jurnal_juita_mei_2013

Jurnal Caltex Riau (PCR) : jurnal caltex riau 2015

Prosiding DISC (Univ. Maranatha) : Prosiding DISC 2012

Prosiding EII (ITB) : Prosiding EII 2014

Prosiding ICEL (ITB) : Prosiding ICEL 2011

Prosiding Semantik (Udinus) : Prosiding SEMANTIK2014

Prosiding Senatek (UMP) : Prosiding SENATEK 2013

Prosiding SITIA (ITS) : Prosiding SITIA 2010

Prosiding SNATEK (UnSoed) : Prosiding SNATEK 2011

Prosiding SNTT (UNSIQ) : Prosiding SNTT 2013

Prosiding SENTIKA (Univ. Atmajaya) : Prosiding SENTIKA 2015

 

dosen killer

Gambar ilustrasi dosen

Dunia kerja, menyajikan berbagai macam tipe pekerja dengan berbagai macam karakter. Dalam kesempatan ini, saya coba membahas tipe dosen, berdasarkan pencapaian target kinerja, baik itu target individu, maupun target tim. Target individu adalah target yang harus dicapai oleh dosen, sesuai job desk pekerjaannya (berkitan dengan tri darma, bkd, rapor kinerja dosen, jabatan fungsional), maupun target tim (biasanya ini dibebankan pada tim sesuai dengan RKA dan KM dari pimpinan/yayasan)

4 TIPE KARYAWANType 1: Tanggung Jawab – Egois (Target Individu tercapai tetapi Target Team tidak )

Karena dituntut bkd harus memenuhi kriteria tri darma, juga ada penilaian kinerja individu dosen, muncullah dosen-dosen yang berorientasi pada target pribadi. Ke-egoisan mereka tampak, saat melakukan pengajaran, memaksa untuk mencapai target 14 kali pertemuan, bahkan lebih. Selalu mencari jadwal pengganti jika berhalangan, bahkan seringkali memaksakan menggunakan kelas agar jumlah pertemuannya mencukupi, tanpa melihat dosen lain yang mungkin lebih berkepentingan (dosen lain yang masih jauh lebih kecil jumlah pertemuannya).

Demi mencapai jumlah kum yang lebih banyak, para dosen egois enggan meneliti bersama. Sehingga dosen dosen baru atau dosen yang kurang produktif menjadi semakin tidak produktif, dan dosen yang aktif terlihat sangat menonjol.

Dosen egois enggan diajak untuk melakukan sesuatu yang sifatnya tim, misalnya dalam kepanitiaan sehingga harus berangkat di hari libur atau lembur untuk mengerjakan borang akreditasi, misalnya.

Nilai positif:

1. Fokus pada pekerjaan sehingga penyelesaian pekerjaan bisa lebih cepat.

2. Dapat diandalkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tidak membutuhkan interaksi dengan rekan kerja.

Hal negatif

1. Sifat individualistis menyebabkan hubungan dengan rekan kerja renggang. Sesekali mari kita menyumbang ide atau sharing agar rekan kerja kerja dapat menyelesaikan pekerjaan sebaik kita.

2.Membentuk pribadi yang egois, asal pekerjaan mereka selesai. Tidak ada rasa tanggung jawab sebagai anggota Team. Dalam sebuah team tidak ada pemain tunggal, mereka harus bekerjasama agar mencapai goal-goal indah.

Type 2: Tanggung Jawab – Setia Kawan (Target Individu tercapai dan Target Team tercapai )

Dalam suatu perguruan tinggi, jumlah dosen yang bertipe 2 sangatlah sedikit. Mereka biasanya tipe-tipe orang yang dianugerahi kelebihan untuk dapat bekerja secara multitasking. Type dosen seperti ini yang akan menjadi leader atau pemimpin organisasi. Biasanya, mereka juga menjabat struktural. Mereka rela berkorban banyak demi institusi dan demi kejayaan karirnya sebagai dosen. Lebih hebat lagi, jika mereka adalah orang yang sukses dalam menjalankan rumah tangga. Otomatis, jumlah mereka sedikit dan menjadi minoritas.

Mereka menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu. Saat pekerjaan mereka selesai mereka tidak diam dan menunggu. Mereka akan membantu team untuk mencapai target-target yang telah disepakati bersama. Dosen type 2 akan membantu rekan 1 team nya yang kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan. Mereka dosen yang dicintai oleh rekan-rekanya atas bantuan dan kepedulian untuk mencapai target team.

Nilai positif:

1. Dosen type 2 bisa diandalkan untuk pekerjaan yang penuh tantangan. Mereka mempunyai skill individu yang bagus, selain itu mampu berkomitnent secara pribadi bahwa target Team adalah tanggung jawabnya

2. Hubungan kerja yang Harmonis, ini tercipta karena mereka tidak segan membantu rekan kerja untuk memberikan kontribusi terbaik bagi institusi.

Type 3: Pencari Alasan – Setia Kawan (Target Individu tidak tercapai tetapi Target Team tercapai )

Sebagai dosen type 3  memiliki komitmen yang rendah terhadap Target individu yang dibebankan kepadanya. Mereka Asyik membantu pekerjaan orang lain sehingga pekerjaan dia sendiri tidak selesai.Mereka orang-orang yang setia kawan dan tidak segan-segan membantu rekannya walaupun itu artinya mengorbankan pekerjaan nya.

Dosen Type 3 Berkata

Pekerjaan saya selesai semua kecuali yang utama

Mereka aktif dalam kepanitiaan, aktif dalam kegiatan organisasi, penolong yang baik dalam acara-acara institusi, tapi mengajarnya bolong-bolong, tapi jarang meneliti dan publikasi.

Nilai positif:

1. Dosen type 3 bisa diandalkan untuk pekerjaan tim, cocok untuk menangani kepanitiaan acara-acara kampus, mereka adalah tipe ringan tangan, tidak segan membantu orang lain.

Nilai negatif:

1.Target kinerja individu yang terabaikan, kadang membuat target tim menjadi tidak tercapai. Misalkan, target prodi pada semester ganjil jumlah kehadiran dosen rata-rata minimal 12 kali pertemuan, tapi karena ada beberapa dosen yang pertemuannya kurang (target individu tidak tercapai), menjadikan target prodi tidak tercapai.

 

Type 4: Pencari Alasan – Egois (Target Individu tidak tercapai dan Target Team tidak tercapai)

Type 4 tidak memiliki komitmen apapun terhadap target, mereka menjadi beban bagi rekan satu teamnya. Sebuah Team kita ibaratkan sebuah perahu yang berlayar dan anggota Team adalah Anak Buah Kapal. Saat rekan lain sibuk dalam menjalanan perahu ke arah yang benar pekerja type 4 malah sibuk melubangi perahu agar tenggelam. Mereka sibuk mencari 1001 alasan saat target individu maupun Team tidak tercapai.

Mereka sibuk entah apa yang dikerjakannya. Mengajar tidak maksimal, meneliti tidak pernah, ngirim soal dan nilai telat terus. Dalam kerja tim, biasanya cuma numpang nama aja, gak mau kerja kalau gak disuruh atasan, jika dimintai kontribusinya, selalu ngeles harus ada SK, gak sesuai job desk, dst.

Jauhi rekan kerja yang masuk Type 4 karena dia akan mencari dukungan agar rekan yang lain juga tidak mencapai target seperti dirinya. Mereka seperti parasit dalam tubuh organisasi yang tidak pernah puas mengeruk keuntungan bagi dirinya sendiri. Hindarilah mereka dan biarkan mereka terlempar dalam roda perubahan suatu organisasi, kesepian karena tidak ada dukungan.

Silahkan kita bisa menentukan diri kita termasuk dalam type yang mana, dan kita bisa melihat sisi positif dan negatif masing-masing type dosen.

 

sumber : link yang sudah dimodifikasi

teacher day
Jika tanggal 5 Oktober selalu diperingati sebagai hari TNI di Indonesia, maka di dunia, tanggal tersebut diperingati sebagai hari guru sejak tahun 1994.Tujuannya adalah untuk memobilisasi dukungan bagi para guru dan untuk memastikan bahwa kebutuhan generasi mendatang akan terus dipenuhi oleh guru.

Guru dan Passion

Barangkali kita pernah melihat seorang yang bekerja sebagai pekerja sosial di panti jompo, sebagai penyuluh dan pembela wanita korban KDRT, atau sebagai tim SAR. Berapa gaji mereka? Mengapa mereka mau bekerja keras dengan gaji yang kecil? Jawabannya adalah Passion, panggilan jiwa.

Menjadi guru atau dosen, kalau memang bukan dari panggilan jiwa, tentu susah untuk menjalani profesi ini. Tanggung jawab yang besar ada di pundak para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Dia harus dapat mendidik, bukan sekedar mengajar. Dan itu bukanlah sesuatu yang mudah.Banyak yang akhirnya mengundurkan diri atau beralih profesi karena tuntutan administratifyang bertele tele dan tuntutan moral yang cukup menantang.

Gaji dosen berpendidikan S2 sekitar 3 juta, beruntung jika sang dosen sudah punya jabatan fungsional, sehingga ada tunjangan yang lumayan sebagai tambahan gaji, lumayan itu besarnya kira-kira 500 sampai 1 juta, tergantung perguruan tingginya. Beruntung lagi jika beliau merangkap jabatan struktural, karena biasanya ada tambahan gaji, entah berapa, tergantung pula pada keuangan perguruan tinggi yang bersangkutan, tapi ingat, ada tambahan tugas lain yang tentunya akan menyita waktu dan perhatian sebagai kompensasinya. Jika dosen tersebut sudah tersertifikasi, pasti ada tambahan lumayan yang diperoleh dari pemerintah tergantung pangkat dan jabatannya (mudah-mudahan jangan dihapus ya pak presiden….).

Kalau dijumlah, perolehan gaji dosen cukup kecil dibandingkan gaji karyawan di perusahaan swasta. Makanya, kalau bukan passion, tak mungkin bisa bertahan menjadi dosen. Passion itu adanya di hati, dan jika kebahagiaan adanya di hati, maka uang menjadi tidak berarti.

Guru dan Vision

Sekilas melihat hebatnya seorang guru, tenia kecil sangat mendambakan profesi ini. Saya kagum dan takjub melihat guru-guru saya mengajar, memberi contoh, memimpin sebuah kelas, dan melakukan peragaan-peragaan yang luar biasa. Maka, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, tidak ada cita-cita lain selain menjadi guru terbersit di benak saya. Jika di kemudian hari, justru saya ber sekolah bukan di pendidikan guru, tapi Allah memberi saya jalan untuk menjadi guru. Mungkin itu arti dan kekuatan sebuah mimpi. Bahkan, Allah memberiku bonus sebagai dosen, meski cita cita saya dulu adalah guru SD.

Sudah 8 tahun menjalani profesi ini, dan saya mencintainya. Melihat mahasiswa aktif di kelas dan berhasil menemukan hal-hal baru membuat hati saya berbunga-bunga. Ada kebahagiaan tersendiri jika melihat ilmu yang saya tularkan berguna. Bukan, saya tidak terpancing untuk mendapatkan pahala, tapi benar-benar hanya ingin berbagi ilmu dan manfaat diri ini. Saya mengejar meaning, arti diri, bukan yang lain.

“The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires. ~William Arthur Ward”