security2

Maraknya penipuan di internet, seperti hadiah via sms, penipuan berkedok pulsa, penipuan dalam belanja online, dan spam gambar dan video porno di social media akhir-akhir ini seharusnya dapat membuat kita menjadi lebih waspada dalam menghadapi dampak kecanggihan teknologi. Alih alih mengikuti tren, justru malah menjerumuskan kita menjadi korban cyber crime. Dalam paparannya pada Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, baru-baru ini, seorang pakar teknologi informasi Prof. Dr. R. Eko Indrajit, menyatakan, bahwa di Indonesia, kasus hakcing yang paling sering terjadi adalah “social engineering”. Kerawanan suatu informasi, terletak pada rantai yang paling lemah. Contoh, seorang hacker yang akan menjebol server Bank di tingkat pusat, pasti akan mengalami kesulitan, tapi, kalau mencoba untuk melakukan hack server di suatu kantor Cabang pembantu entah di suatu pulau tertentu, dimana koneksinya seminggu sekali, maka disitulah titik rawannya.

Menurut Dr. Budi Raharjo, seorang dosen ITB, dan ahli keamanan sistem, social engineering merupakan upaya-upaya atau kegiatan  membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam konteks keamanan informasi, social engineering ditujukan agar target membocorkan informasi rahasia (seperti misalnya password, PIN). Pencurian identitas (identity theft) juga merupakan salah satu teknik social engineering. Kalau di Indonesia, pencurian identitas ini banyak terjadi di Facebook. Apa yang dapat dilakukan setelah mendapatkan identitas seseorang? Yang lazim dilakukan penyerang adalah meminta uang (berpura-pura ada yang sakit) atau meminta pulsa.

Melindungi data

Data apa yang menurut Anda paling rahasia? Tanggal kelahiran? Tanggal pernikahan? Atau nama hewan kesayangan Anda? Bagaimana mungkin menyembunyikan tanggal kelahiran, jika teman-teman sekolah Anda memberikan ucapan selamat ulang tahun di time line Facebook, dan bagaimana mungkin menyembunyikan tanggal pernikahan sedangkan Anda membagikan undangan pada seluruh kerabat dan kolega Anda? Bagaimana mungkin menyembunyikan lokasi Anda, sedangkan Anda rajin selfie dan sering update foto status di instagram dan Facebook?

Lalu, bagaimana cara melindungi data-data penting pribadi maupun perusahaan?

  1. Kenali target

Target social engineering biasanya resepsionis, help desk, front office, admin komputer, mitra kerja, atau karyawan baru. Jika berhubungan dengan pendekatan manusiawi, hacker akan memilih korban yang memiliki rasa takut (pada pimpinan, penegak hukum, dll), rasa percaya (menyamar sebagai teman baik, sejawat, sekretaris, dll), rasa ingin menolong (terhadap korban bencana, orang yang tertimpa musibah, dll), rasa senang dipuji, ceroboh dan rasa senang terhadap sesuatu yang bersifat gratisan. Dengan demikian, jika Anda termasuk dalam kategori “target”, maka diharapkan untuk lebih waspada dan berhati-hati, karena penipu senang dengan pekerjaan dan karakter Anda.

  1. Kenali teknik hacking

Berhati-hatilah, jika mendapati seseorang menggunakan teknik hacking, seperti memasang kamera pengintai di ATM untuk mendapatkan PIN dari korban, info yang ada di tong sampah perusahaan, menyamar sebagai office boy, atau masuk sebagai teman di social media dengan add friend dan chatting.

  1. Buat pengamanan data//informasi

Buat password yang baik, diantaranya menggunakan kombinasi huruf, angka, dan simbol, tidak ada dalam kamus bahasa, panjangnya sekitar 8-12 karakter, mudah diingat, namun sulit ditebak orang lain. Jangan gunakan tanggal lahir maupun tanggal pernikahan sebagai password, jangan membalik nama, jangan membuat password menggunakan karakter berurut pada keyboard seperti qwerty maupun 12345.

Selain membuat password yang baik, enkripsikan file sistem/data, installah antivirus software pada perangkat komunikasi dan informasi, buatlah firewall dan backup data secara rutin.

Menjaga Password tetap aman

  1. Jangan simpan password dalam mobile gadget, komputer PC maupun pada catatan kecil di meja kerja Anda
  2. Jangan beritahu password kepada siapapun, termasuk admin system
  3. Pastikan tidak ada CCTV di belakang Anda
  4. Logout ketika meninggalkan komputer
  5. Gunakan protected password pada screen saver
  6. Bersihkan meja dari catatan kecil
  7. Ganti Password secara periodik

Bagaimana jika sudah terlanjur eksis di dunia maya? Tetaplah eksis, tapi, sebarkan sesuatu hal yang baik, sehingga, saat orang mencari nama Anda lewat search engine, yang didapat adalah berita-berita baik dari diri Anda. Buatlah skenario hidup sendiri, jangan mau menjadi “pemain” dalam skenario orang lain, tetap berdoa dan harus terus waspada. Pepatah mengatakan “There’s no patch for human stupidity”, lubang kerawanan komputer dapat ditutupi dengan patch, dan, lubang kerawanan manusia ditutupi dengan edukasi IT.

Koran Radar Banyumas, 6 Agustus 2015

Pojok Telematika, Tenia Wahyuningrum

 

 

stop pornografi

 

Terbunuhnya seorang PSK online serta tertangkapnya mucikari RA pada beberapa waktu lalu, menjadi sebuah fenomena hangat di masyarakat. Terlebih lagi, beberapa artis ikut terbawa dalam kasus tersebut. Maraknya bisnis prostitusi online, mendorong Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise untuk menyiapkan peraturan menteri mengenai larangan penggunaan telepon seluler atau ponsel terhadap anak-anak. Namun, dapatkah kita mencegah dan melarang anak-anak bermain ponsel?

Anak-anak kita, yang lahir pada tahun 1994 sampai 2009 disebut generasi Z. Mereka memiliki perilaku yang berbeda dengan generasi sebelumnya, seperti generasi Baby Boomers  (lahir 1946 – 1964), generasi X (lahir 1965 – 1980) dan Y (lahir 1981 – 1995). Perbedaan paling tampak adalah ketertarikan gen Z kepada perangkat gadget di usia yang masih sangat muda. Bahkan, anak-anak gen Z ini sudah “mengenal” gadget sejak dalam rahim ibu. Setelah lahir pun, sang bayi melihat ibunya asyik menyusui gen Z ini sambil browsing atau update status di sosial media. Hal ini menciptakan anak-anak yang multitasking, instan, dan penuh tantangan.

Tantangan yang dihadapi gen Z ini cukup besar, salah satunya kerusakan otak akibat pornografi. Temuan YKBH, terutama terhadap siswa kelas 4 hingga kelas 6 SD, pada tahun 2008 sampai 2010 di Jabodetabek, ditemukan bahwa 67 persen dari mereka telah melihat/mengakses pornografi, 37 persen diantaranya mengakses dari rumah sendiri. Di sisi lain, penggunaan teknologi informasi yang berkembang pesat, telah membantu anak-anak gen Z mengetahui banyak hal, terutama dalam memahami suatu mata pelajaran. Lalu, dapatkah teknologi membantu para orang tua untuk mencegah pornografi ini terjadi?

  1. Peran orang tua

Sebelum memberikan gadget pada anak, berikanlah pengertian, bahwa ada aturan penggunaan HP, baik itu batasan waktu, maupun batasan situs dan content yang boleh diakses.

  1. UU ITE tentang pornografi

Menggunakan bahasa yang sesuai dengan usia anak, jelaskan bahwa ada Undang-undang yang mengatur tentang pornografi. Aturan tersebut meliputi orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit, maka akan ada hukuman denda ataupun penjara.

  1. Aktifkan parental control

Setelah itu, aktifkan parental control pada piranti teknologi informasi. Pada windows 7 dan 8, bukalah parental control pada control panel, kemudian pada User Accounts and Family Safety, klik Set up parental controls for any user. Buatkan masing-masing anak satu akun, dengan privilege yang berbeda. Kita dapat melakukan konfigurasi, kapan anak-anak boleh bermain, dan situs apa saja yang boleh diakses. Pada smartphone android dan iPhone juga banyak aplikasi parental control yang bisa di download dan di pasang, seperti Kids Place, Kakatu, Norton Parental Control, dan lain-lain.

  1. Cegah dengan menggunakan melakukan filter terhadap DNS (Domain Name System)

Terdapat DNS filtering “ala Indonesia” seperti layaknya OpenDNS.com yang disebut DNS Nawala. Merupakan sebuah layanan yang bebas digunakan oleh pengguna internet yang membutuhkan saringan konten negatif. Secara spesifik, DNS Nawala akan memblokir jenis konten negatif yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan, nilai dan norma sosial, adat istiadat dan kesusilaan seperti pornografi dan perjudian. DNS Nawala bekerja saat anak mengakses internet pada sebuah situs , maka alamat situs terlebih dahulu akan diarahkan pada sebuah server dan dilakukan filterisasi sebelum diteruskan ke alamat yang dituju.

  1. Blokir situs porno pada browser

Pemblokiran situs porno juga dapat dilakukan melalui browser. Caranya, buka browser Mozilla firefox, lalu klik menu tools pada mozilla, kemudian klik Add-ons. Lalu akan muncul tab baru, pada kotak pencarian, ketik consureblock dan akan muncul pilihan. Klik add to firefox untuk memasangnya. Lalu restart pada browser Mozilla tersebut, dan siap untuk digunakan.

 

Mencegah anak gen Z bermain gadget, sama dengan mencegah anak gen Y bermain petak umpet. Kita tidak bisa melawan laju perkembangan jaman. Biarkan teknologi melaju sedemikian pesat, tidak akan tersesat jika kita telah memiliki “rem”nya. Jadikan teknologi sebagai jembatan menuju masyarakat modern tapi tetap humanis.

 

Dimuat dalam Pojok Telematika, Koran Radar Banyumas (update fotonya nyusul yah, lagi dicari koran nya 😀 )