games

artikel di koran

 

(Radar Banyumas, 19  Maret 2015)

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan menyinggung tentang berita pembegalan yang marak dan ternyata banyak dilakukan remaja di bawah umur sebagai salah satu contoh berita kekerasan yang banyak dibicarakan. “Ada berbagai kemungkinan faktor penyebab kecenderungan kekerasan oleh anak yang perlu diteliti besar pengaruhnya. Kita perlu melihat secara utuh faktor-faktor yang ada di sekolah, keluarga dan masyarakat,” ujar Mendikdasmen. Dalam seminar Pendidikan Karakter di Bandung akhir Februari lalu, beliau memberi contoh tentang kerentanan anak dalam masa perkembangan dalam membedakan yang maya dan nyata, serta sinetron dan video game bagi dewasa sebagai contoh kemungkinan faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan anak-anak. Kemajuan jaman tak pelak telah mengubah gaya dan tipe permainan anak. Jika dulu para orang tua bermain petak umpet, galasin, lompat tali dan congklak, maka anak-anak pada jaman sekarang memainkan game yang berbasis elektronik, entah itu video game, game online atau menggunakan game CD interaktif. Lalu, bagaimana cara memilih permainan elektronik yang sesuai dengan anak Anda? berikut ini tips-tipsnya.

  1. Jika anak Anda gemar bermain video game, cari tahu tentang rating video game tersebut terlebih dahulu

Entertainment Software Rating Board merupakan sebuah organisasi non profit, memberikan rating/peringkat yang muncul di hampir setiap video game. Bagian depan dan belakang dari cover video game tersebut  akan terdapat peringkat satu dari enam peringkat usia. Pada bagian belakang paket, di samping rating, deskripsi konten menjelaskan apa yang mungkin telah memicu rating, dan menunjukkan apa yang mungkin menarik atau perhatian kepada orang tua. Terdapat 6 kategori rating yaitu Early Childhood (cocok untuk anak usia dini), Everyone (untuk semua umur), Everyone 10+ (untuk usia 10 tahun ke atas), Teen (untuk usia 13 tahun ke atas), Mature (untuk usia 17 tahun ke atas) dan Adults Only (untuk dewasa), serta satu kategori antara Rating Pending yaitu game yang belum selesai dalam penilaian rating, sehingga pemberian rating masih ditunda.

 

  1. Selain memilih rating yang tepat, cermati pula deksripsi konten dari video game

Deskripsi konten dalam ESRB beraneka ragam, mulai dari Blood and Gore (menggambarkan adanya darah dan mutilasi bagian tubuh), Intense Violence (penggambaran konflik fisik yang mempertontonkan darah, senjata, cedera manusia, kematian secara realistis), Nudity (penggambaran tubuh telanjang), Sexual Content (mengandung konten seksualitas), sampai Use of Drugs (mengkonsumsi atau penggunaan obat-obatan terlarang). Di kotak video game biasanya terdapat pengkategorian seperti ini, semisal “Mature 17+: Blood and Gore, Sexual Theme, Strong Language”. Pilihlah deskripsi konten yang sesuai dengan buah hati Anda.

  1. Pilih sesuai kemampuan anak

Sesuaikan kemampuan dan minat anak, tahapan perkembangan dan tingkat kesulitan permainan, sehingga anak akan menikmati permainan mulai dari level mudah sampai sulit. Carilah game yang memberi kesempatan anak untuk membuat keputusan dan mengekspresikan kesukaannya. Misalkan memilih bentuk, warna, sampai memilih pakaian yang dikenakan karakter tokoh.

  1. Aturlah parental control

Untuk beberapa device Microsoft Xbox 360, Nintendo Wii, PLAYSTATION 3, Sony PlayStation Portable (PSP), game console tersebut memiliki fasilitas settings terhadap game dengan rating tertentu. Video game console akan menolak untuk memainkan permainan tertentu yang telah di setting otomatis berdasarkan ESRB, sehingga orang tua kan lebih tenang karena anak tidak dapat memainkan video game yang tidak sesuai dengan tingkat umurnya. Untuk melakukan pengaturan (setting) tersebut pun cukup mudah. Anda bisa memberi kunci (password) pada game console tersebut, maka anak tidak akan dapat mengubah pengaturan yang telah Anda buat. Penyaringan konten juga seyogyanya dilakukan pada komputer, tablet, smartphone dan perangkat lainnnya untuk melindungi anak dari konten digital berbahaya pada saat orangtua tidak mengawasi. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunawakan open DNS dengan menggunakan pengaturan pada router, yang menawarkan 3 pilihan Family shield, home dan home vip. Untuk pengguna windows, terdapat fitur windows family safety dan bagi pengguna mac OS X dapat mengaktifkan menu system preferences yang didalamnya terdapat menu parental control, sedangkan pada perangkat android layanan content filtering dapat diunduh dengan melakukan pembelian melalui toko aplikasi resmi di Google Play store.

  1. Cobalah dan dampingi

Sebelum memberikan pada anak, cobalah game tersebut. Jika dirasa cocok dan sesuai dengan buah hati, Anda dapat merekomendasikan untuk putra-putri Anda. Dampingi buah hati saat bermain game, anak kadang cenderung kecanduan jika sudah mulai menyukai satu game, atau bahkan cenderung frustasi jika tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas dalam game. Maka, peran orang tua penting dalam mengendalikan emosi putra-putrinya. Demikian tips dalam memilih game, jadikan teknologi sebagai jembatan menuju masyarakat modern tapi tetap humanis.

slide presentasi dapati didownload disini

Hai…., teman-teman dosen yang baik hatinya…., sudah bikin soal ujian? gak terasa udah hampir mid semester ini pak, bu….., bagi yang sudah bikin, berarti sampeyan pancen oye! bagi yang belum, silakan baca tips-tips cantik dari saya, agar bapak/ibu tidak salah dalam membuat soal ujian. Siaaaaap?

1. Hindari kalimat yang dimulai dengan “Apa yang anda ketahui tentang……”, karena kalau mahasiswa menjawab “saya tidak mengetahui apa2 tentang hal tersebut” atau “sumpah pak, saya gak tahu apa-apa!” itu sah-sah saja lo pak/bu, karena mereka bisa jadi menjawab jujur, dan Anda harus tetap memberi poin bagi jawaban seperti ini….. 😀

2. Hindari soal : jodohkanlah kolom A dan kolom B, karena sejatinya, yang berhak dan yang paling tahu soal jodoh adalah Tuhan. Jangan jadikan mahasiswa sebagai mak comblang ya pak, bu……

3. Hindari soal dengan kalimat yang ambigu : Jawablah dengan jelas dan benar ! karena bisa jadi jawaban mahasiswa isinya hanya “benar” dan “jelas”

 

4. Jangan menggunakan kalimat : carilah, misalkan carilah nilai x, kalau Anda tidak ingin jawaban mahasiswa seperti ini !

 

5. Hindari kalimat sepotong, dan mahasiswa diminta untuk meneruskannya, karena bisa jadi salah persepsi, misalkan

“Lanjutkan peribahasa berikut ini ”

Tidak ada Gading ………. (*mahasiswa alay akan menjawab : Tidak ada gading, maka tidak ada Gisella Idol)

atau

Guru Kencing berdiri ………. (*mahasiswa cowok akan menjawab : Guru kencing berdiri, pasti gurunya cowok kan? hayo ngaku….”

 

Demikianlah, tips-tips dalam membuat soal ujian……, selamat pagi dan selamat bekerja….