tak terasa hampir separo umur kita, kita gunakan untuk bersekolah, mulai dari TK (2 tahun), SD (6 tahun), SMP (3 tahun), SMU (3 tahun), kuliah s1 (4 tahun) dan mungkin melanjutkan s2 (2 tahun) total = 20 tahun…., wow!!!

usia saya saja masih 31 tahun, jadi hanya 11 tahun saya gak sekolah…..

belajar itu ada dimana saja, tak perlu harus di sekolahan.

believe it or not

 

 

“joke tentang nilai mahasiswa”

Guyonan diatas mungkin ada benarnya juga. Seorang ungraduate bisa jadi milyuner, itu sudah banyak contohnya. tapi, ungraduate seperti apa yang bisa jadi milyuner? tentu bukan sembarang ungraduate bukan?

seseorang yang tidak lulus sekolah karena malas, akan lain ceritanya jika seseorang tidak lulus sekolah, karena dia merasa sekolah bukanlah tempat yang tepat untuk dirinya yang terlalu out of box.

menjadi milyuner butuh ketekunan, keuletan, kerja keras, bahkan mungkin mengorbankan sisi kehidupan pribadinya. saya tentu tidak mengajari anda untuk DO. tapi, kalau mau DO ya jangan tanggung-tanggung. jangan jadi pengangguran, apalagi nyusahin orang.

 

ini contohnya :

 

susi-pudjiastuti

 

 

Susi Pudjiastuti

Susi Pudjiastuti lahir di Pangandaran, Jawa barat, 15 Januari 1965 adalah seorang pengusaha yang kini Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja 2014-2019. Ia merupakan pengusaha pemilik dan Presdir PT ASI Pudjiastuti Marine Product, eksportir hasil-hasil perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation atau penerbangan Susi Air dari Jawa Barat. Hingga awal tahun 2012, perusahaan miliknya, Susi Air telah mengoperasikan 50 pesawat dengan berbagai tipe seperti 32 Cessna Grand Caravan, 9 Pilatus PC-6 Porter dan 3 Piaggio P180 Avanti. Susi Air mempekerjakan 180 pilot, dimana 175 di antaranya adalah pilot asing.

Meski telah mencapai berbagai macam prestasi dan suskes dalam usaha, Susi ternyata hanya memiliki ijazah SMP. Setamat SMP ia sempat melanjutkan pendidikan ke SMAN Yogyakarta. Namun, saat kelas II dia diberhentikan dari sekolah karena keaktifannya dalam gerakan Golput. Setelah tidak lagi bersekolah, Susi mengawali profesinya sebagai pengepul ikan di Pangandaran dengan modal Rp750 ribu dari hasil menjual perhiasan. Usahanya terus berkembang, dan pada 1996 Susi mendirikan pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan produk unggulannya berupa lobster dengan merek “Susi Brand”. Bisnis pengolahan ikannya meluas dengan pasar sampai ke Asia dan Amerika. Susi mulai menyadari kalau ia memerlukan sarana transportasi udara yang dapat dengan cepat mengangkut hasil laut kepada pembeli agar selalu dalam keadaan masih segar. Tahun 2004, Susi memutuskan untuk membeli sebuah Cessna Caravan seharga Rp20 miliar dengan menggunakan pinjaman bank. Ia kemudian mendirikan PT ASI Pudjiastuti Aviation, pesawat satu-satunya yang ia miliki itu kemudian gunakan untuk mengangkut lobster dan ikan segar tangkapan nelayan di berbagai pantai di Indonesia ke pasar Jakarta dan Jepang. Dua hari setelah terjadi gempa tektonik dan tsunami melanda Aceh dan pantai barat Sumatera pada 26 Desember 2004, pesawat Cessna Susi adalah yang pertama yang berhasil mencapai lokasi itu untuk mendistribusikan bantuan kepada para korban. Peristiwa itu rupanya mengubah arah bisnis Susi.

Saat bisnis perikanan mulai menurun, Susi menyewakan pesawatnya itu untuk misi kemanusiaan. Setelah tiga tahun berjalan, perusahaan penerbangan itu semakin berkembang hingga memiliki 14 pesawat, 4 di Papua, 4 di Balikpapan, Jawa dan Sumatera. Perusahaannya kini memiliki 32 pesawat Cessna Grand Caravan, 9 pesawat Pilatus Porter, 1 pesawat Diamond star dan 1 buah pesawat Diamond Twin star. Susi Air kini memiliki 49 dan mengoperasikan 50 pesawat terbang berbagai jenis. Susi telah menerima banyak penghargaan diantaranya Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat tahun 2004, Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005, serta Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia. Tahun 2006, ia menerima Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006 dari Metro TV, Indonesia Berprestasi Award dari PT Exelcomindo dan Sofyan Ilyas Award dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2009. Tahun 2008, ia mengembangkan bisnis aviasinya dengan membuka sekolah pilot Susi Flying School melalui PT ASI Pudjiastuti Flying School. Pada hari Minggu, 26 Oktober 2014, Presiden RI Joko Widodo menetapkan Ibu Susi Pudjiastuti ditetapkan sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan dalam kabinet kerja

AdamMalik

 

Adam Malik

Adam Malik Batubara (lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 22 Juli 1917 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 5 September 1984 pada umur 67 tahun) adalah tokoh politik dengan banyak jabatan. Pernah menjadi Menteri Perdagangan, Menteri Luar Negeri, lalu Ketua DPR, hingga puncak karinya sebagai Wakil Presiden Indonesia ke-3 dari tahun 1978-1983.

Adam Malik adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara, lalu  menempuh pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School Pematangsiantar. Ia melanjutkan di Sekolah Agama Parabek di Bukittinggi, namun hanya satu setengah tahun saja karena kemudian pulang kampung dan membantu orang tua berdagang.

Keinginannya untuk maju dan berbakti kepada bangsa mendorong Adam Malik untuk pergi merantau ke Jakarta. Pada usia 20 tahun, ia bersama dengan Soemanang, Sipahutar, Armijn Pane, Abdul Hakim, dan Pandu Kartawiguna memelopori berdirinya Kantor Berita Antara

 

ajip rosidi

Ajip Rosidi

Ajip Rosidi adalah sastrawan Indonesia, penulis, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbit, pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage. Singkatnya, ia tokoh besar Indonesia di bidang tulis-menulis.

Ajip Rosidi mulai menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Jatiwangi (1950), lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953) dan terakhir, Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956).

Saat di SMA tersebut, Ajip menolak ikut ujian karena waktu itu beredar kabar bocornya soal-soal ujian. Dia berkesimpulan bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya kepada ijazah.

“Saya tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah”. Dan itu dibuktikan dengan terus menulis, membaca dan menabung buku sampai ribuan jumlahnya.

Walhasil sampai pensiun sebagai guru besar tamu di Jepang, Dia yang tidak punya ijazah SMA , pada usia 29 tahun diangkat sebagai dosen luar biasa Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Lalu jadi Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Ketua Ikapi Pusat, Ketua DKJ dan akhirnya pada usia 43 tahun menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun.

Andrie Wongso

Andrie Wongso

Di antara motivator yang terkemuka dewasa ini, Andrie Wongso jadi satu tokoh dengan pengalaman hidup yang penuh inspirasi. Anak ke-2 dari 3 bersaudara ini terlahir dari sebuah keluarga miskin di kota Malang.

Di usia 11 tahun (kelas 6 SD), terpaksa harus berhenti bersekolah karena sekolah mandarin tempat andrie kecil bersekolah ditutup. Masa kecil hingga remajanya pun kemudian dilalui dengan membantu orang tuanya membuat dan berkeliling berjualan kue ke toko-toko dan pasar. Di usia 22 tahun, Andrie merantau ke Jakarta. Pekerjaan awalnya sebagai salesman produk sabun. Sempat juga menjadi pelayan toko.

Jalur nasibnya berubah saat ia melamar sebagai bintang film dan diterima oleh perusahaan Eterna Film Hongkong, dengan kontrak kerja selama 3 tahun. Tahun 1980, untuk pertama kalinya Andrie ke luar negeri. Setelah melewati 3 tahun merasakan suka dukanya bermain film di Taiwan, Andrie tahu, dunia film bukanlah dunianya lalu dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Menandai setiap peristiwa yang telah dilalui, Andrie gemar menuangkannya dalam bentuk kata-kata mutiara di buku hariannya. Saat salah seorang teman kos mencontek kata-kata yang dibuatnya, dari situlah muncul ide membuat kartu ucapan kata-kata mutiara, dengan tujuan selain untuk memotivasi diri sendiri, juga untuk membantu memotivasi orang lain melalui kartu ucapan. Dibantu oleh sang kekasih Haryanti Lenny (sekarang istri), dimulailah bisnis membuat kartu dengan merk HARVEST, yang di kemudian hari, mengukuhkan Andrie sebagai raja kartu ucapan.

Usahanya semakin berkembang sampai ia kemudian mendirikan AW motivation training dan AW Publising, Multimedia serta membuka beberapa outlet AW Success Shop yaitu toko pertama di Indonesia yang khusus menjual produk-produk motivasi.

Kini ia sudah menjadi motivator terkenal – mungkin no.1 di Indonesia. Namanya pun jadi bertambah panjang dengan dua gelar yang disandangnya, Andrie Wongso, SDTT, TBS.

Asal tahu saja, SDTT artinya Sekolah Dasar Tidak Tamat, dan TBS adalah Tapi Bisa Sukses

(dikutip dari berbagai sumber)