teori peluang

—Siapa sangka, kejadian kriminal macam judi, menjadi inspirasi dalam penemuan teori peluang?

Kata pepatah : “sebaik-baik perjalanan, adalah jika kita dapat mengambil hikmahnya”

Nah, hikmah dari perjudian  adalah melahirkan teori peluang. (saya lagi mikir keras kalau hikmah dari korupsi apa ya? kayaknya mungkin adalah lahirnya teori menghilang *dari kejaran KPK   😀 )

Awalnya dilakukan oleh matematikawan dan fisikawan Itali yang bernama Girolamo Cardano (1501-1576). Cardano lahir pada tanggal 24 September 1501.

—Cardano merupakan seorang penjudi pada waktu itu. Walaupun judi berpengaruh buruk terhadap keluarganya, namun judi juga memacunya untuk mempelajari peluang.

—Dalam bukunya yang berjudul Liber de Ludo Aleae (Book on Games of Changes) pada tahun 1565,  Cardano banyak membahas konsep dasar dari peluang yang berisi tentang masalah perjudian.

—Sayangnya tidak pernah dipublikasikan sampai 1663. Girolamo merupakan salah seorang dari bapak probability.

—Pada tahun 1654, seorang penjudi lainnya yang bernama Chevalier de Mere menemukan sistem perjudian.

—Ketika Chevalier kalah dalam berjudi dia meminta temannya Blaise Pascal (1623-1662) untuk menganalisis sistim perjudiannya.

—Pascal menemukan bahwa sistem yang dipunyai oleh Chevalier akan mengakibatkan peluang dia kalah 51 %.

—Pascal kemudian menjadi tertarik dengan peluang, dan mulailah dia mempelajari masalah perjudian.

Dia mendiskusikannya dengan matematikawan terkenal yang lain yaitu Pierre de Fermat (1601-1665). Mereka berdiskusi pada tahun 1654 antara bulan Juni dan Oktober melalui 7 buah surat yang ditulis oleh Blaise Pascal dan Pierre de Fermat yang membentuk asal kejadian dari konsep peluang.

*dari berbagai sumber di internet, nah, kalau mau download file presentasi saya ttg peluang silakan klik disini ya….

Perbedaan Usability dan User Experience

HCI adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari perancangan, implementasi dan evaluasi sistem komputasi interaktif dan berbagai aspek terkait. (Hewett, 1992, 1996).

Pada perspektif ilmu komputer, fokus HCI ada pada interaksi, khususnya interaksi antara satu atau lebih manusia pengguna komputer dengan satu atau lebih mesin komputasi (komputer).

Usability dan user experience

Tujuan utama usability adalah untuk memenuhi kriteria khusus dari kebergunaan (misalnya efisiensi).

Tujuan utama user experience adalah lebih ke arah peningkatan kualitas pengalaman pengguna, misalnya tampilan yang secara estetika menyenangkan.

Kesalahan klasik dalam merancang sistem :

  1. Kesalahan asumsi pada rancangannya,
  2. Pilihan-pilihan yang tidak secara tegas ditentukan,
  3. Pembuatan fitur-fitur yang tidak memadai.

Kesalahan umum yang dilakukan perancang sistem :

  1. Perancangan yang didasarkan pada common sense
  2. Anggapan bahwa perilaku seseorang telah mewakili suatu kelompok dimana dia berada
  3. Keinginan atasan yag harus dilakukan
  4. Kebiasaan dan atau tradisi lama
  5. Anggapan implisit yang tidak sesuai / tidak didukung
  6. Keputusan perancangan awal yang tidak didukung
  7. Penundaan evaluasi sampai ada waktu luang
  8. Evaluasi formal yang menggunakan kelompok subyej yang tidak sesuai
  9. Eksperimen yang tidka dapat dianalisis

Kepuasan berinteraksi (Shneiderman, 1998) :

  1. Konsistensi
  2. Fasilitas kunci cepat
  3. Umpan balik yang informatif
  4. Rancangan dialog yang mengarah ke penutupan (closure)
  5. Pencegahan kesalahan dan penanganan kesalahan
  6. Pembalikan tindakan yang mudah
  7. Dukungan pada locus of control internal
  8. Penggunaan beban memori jangka pendek

Definisi kebergunaan / usability :

Derajat kemampuan sebuah perangkat lunak untuk membantu penggunanya menyelesaikan sebuah tugas.

Dix, et. Al (2004) keberhasilan sebuah sistem untuk membantu penggunanya menyelesaikan suatu tugas ditentukan oleh kombinasi tiga kata “guna” yang kesemuanya harus benar :

  1. Berguna (useful)
  2. Dapat digunakan (usable)
  3. Digunakan (used)

Nielsen, (2003) lima buah komponen kualitas untuk menentukan kebergunaan sebuah sistem :

  1. Kemampuan untuk dipelajari (learnability)
  2. Efisiensi
  3. Mudah diingat
  4. Kesalahan dan keamanan
  5. Kepuasan

Nah, sekian dulu rangkuman tentang perbedaan usability dan user experience, lain waktu disambung lagi ya

olahraga yang lebih manusiawi

pilates equipment

peralatan senam pilates

pada awalnya, saya sering merasa sakit di bagian lutut dan tumit kaki ketika saya hendak bangkit dari tidur. sakit di lutut saya, kemungkinan besar karena tubuh saya yang sudah over weight –>  kata dokter kala itu. dengan tinggi badan 150, dan berat badan 69, tentu kondisi tubuh saya tidak ideal.

beberapa kali saya search tentang olahraga yang cukup aman, bagi saya yang seumur hidup jarang melakukannya, maka, sampailah saya pada olahraga pilates. merupakan cabang dari senam, tapi bukan seperti senam aerobic yang jingkrak jingkrak dan high impact, pilates memerlukan konsentrasi tinggi dan low impact, meskipun hasil akhirnya sama : pegal2 dan capek pada awalnya. oleh karena itu saya sebut olahraga ini lebih “manusiawi” buat saya…., wkwkwkwkwk. tapi setelah beberapa waktu, tubuh akan menyesuaikan diri, dan badan terasa lebih ringan, lutut dan tumit kaki tidak sakit lagi saat harus menapakkan kaki pertama kali setelah bangun tidur.

beberapa bulan saya mengikuti senam ini dengan rutin, hasilnya saya telah berhasil menurunkan berat badan sebanyak 7 kilo, dan sekarang, timbangan saya sudah mencapai angka 60. hmmmm (*sudah 9 kilo turunnya selama hampir 9 bulan). mungkin akan lebih cepat langsing lagi, kalau ditambah latihan kardio seperti lari atau fitnes –> saya belum coba, karena saya gak punya banyak waktu.

pilates 2 pilates 3 pilates 4

gerakan pilates

tidak ada yang instan! itu yang saya yakini sejak dulu. jika ingin tubuh yang sehat dan langsing, tidak cukup hanya dengan mengurangi makanan, atau hanya mengandalkan ramuan herbal yang mahal harganya. masih ingat budi klantink yang meninggal akibat terlalu banyak mengkonsumsi obat pelangsing? so, hasil dari jamu dan obat pelangsing itu tidak akan berdampak baik, karena semua didapat secara instan! turun berat secara perlahan, jangan sampai drastis, karena pasti menimbulkan efek yang tidak baik jika turun terlalu banyak dalam waktu singkat. kesabaran adalah kunci utamanya!

jadi, kembali pada pilates, pilihan tepat untuk saya, yang sudah berumur 30 an, dengan kondisi fisik tak lagi prima seperti jaman muda dulu…. 😀 . olahraga ini konon merupakan pesaing dari yoga. saya sendiri belum pernah mencoba yoga, tapi yang saya dengar sih mirip. latihan pilates banyak menggunakan bantuan alat seperti bola, barbel, tali, dst. gerakannya cukup mudah diikuti oleh pemula, dan jika tidak kuat nafas, bisa berhenti dulu sejenak. jangan terlalu dipaksakan. nanti lama2 juga akan terbiasa…

jadi, marilah kita olahraga, biar sehat dan tetap semangat!

membangun web yang nyaman, bisa kah?

Semester ini, saya dan pak didi supriyadi berkolaborasi untuk mengajukan penelitian dosen pemula. Judul penelitian kami yaitu,

METODE BARU EVALUASI USABILITY TERINTEGRASI ANTAR MUKA PENGGUNA MENGGUNAKAN WEB BASED QUESTIONNARE

 

berikut ini abstraknya :

Persaingan dalam membangun aplikasi web enterprise menuntut sebuah perusahaan pengembang harus mampu membuat produk yang membuat setiap user dapat merasa nyaman dan mudah dalam penggunaannya. Dalam membangun aplikasi web enterprise, pengembang perangkat lunak tidak hanya berfokus pada bagaimana mendesain  userinterface nya saja akan tetapi harus memiliki standar kualitas yang tinggi yang berelasi pada pengalaman dari pengguna. Hal tersebut sering diabaikan oleh pengembang. Usability merupakan salah satu faktor yang relevan dalam kesuksesan sebuah bisnis. Dalam mengevaluasi user interface, berbagai metode telah dikembangkan, antar lain menggunakan kuesioner. Namun dari kuesioner tersebut biasanya hanya mengedepankan usability dari sisi pengguna. Dengan menggunakan dua metode perpaduan dari  perspektif pengguna dan pakar, usability dari sebuah produk perangkat lunak dapat dihitung secara otomatis menggunakan aplikasi berbasis web (web based questionnare) dengan 2 (dua) tahapan yaitu tahap evaluasi heuristik oleh pakar dan tahap pengujian usability oleh pengguna representatif, maka dapat diketahui faktor-faktor mana saja yang mempengaruhi usability dalam pengujian user interface sehingga pengembang dapat memperbaiki user interface agar lebih memiliki kebergunaan.

 

 

 

berbagi ilmu dengan menulis buku (resensi buku matematika diskrit dan penerapannya dalam dunia informatika)

buku tenia_elisa_1buku tenia_elisa_2

buku adalah jendela ilmu

dengan membaca buku, maka, akan bertambah pula ilmu kita. oh ya, saya jadi ingat tentang sebuah hadist, Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).

nah, menulis buku, merupakan bagian dari menyebarkan ilmu yang bermanfaat, mudah-mudahan, dengan menulis buku, kemudian membagikan buku tersebut pada orang lain, akan menambah keilmuan yang bermanfaat bagi kita semua, amiiiiin. jadi begini, dalam target pribadi saya, setiap tahun saya ingin membuat sebuah karya, yaitu buku. buku matematika diskrit dan penerapannya dalam dunia informatika ini merupakan buku saya yang kedua. buku ini saya tulis selama 1 tahun (2015) dan terbit di awal tahun 2016. kenapa lama sekali nulisnya? ya karena saya sambi-sambi mengerjakan pekerjaan lainnya *alesan    :D.

buku setebal 140 halaman ini diterbitkan oleh deeppublish Yogyakarta, terdiri dari 6 bab :

BAB I : MENGAPA PERLU MATEMATIKA DISKRIT?

bab ini membahas tentang perlunya pengetahuan matematika dalam ilmu informatika, dan matematikanya orang informatika adalah matematika diskrit.

BAB 2 : LOGIKA

bab ini membahas tentang logika matematika, terminologi logika, proposisi majemuk, hukum logika dan penerapan logika dalam pemrograman.

BAB 3 : TEORI HIMPUNAN

bab ini membahas tentang teori himpunan dalam ilmu komputer, penyajian, definisi dasar, operasi dasar, hukum-hukum himpunan, pembuktian-pembuktian himpunan, dan penerapan operasi himpunan dalam perintah SQL database.

BAB 4 : KOMBINATORIKA

bab ini membahas tentang kaidah dasar perhitungan, permutasi dan kombinasi, koefisien binomial, dan penerapan kombinatorika dalam keamanan sistem komputer.

BAB 5 : ALJABAR BOOLEAN

bab ini membahas tentang definisi aljabar boolean, aljabar booelan dua nilai, prinsip dualitas, hukum aljabar booelan dan aplikasi aljabar boolean dalam rangkaian digital.

BAB 6 : GRAF

bab ini membahas tentang sejarah, definisi, terminologi dasar graf, keterhubungan, dan contoh implementasi teori graf pada permodelan jaringan komputer.

Buku ini telah dilengkapi dengan contoh soal dan jawaban, serta latihan-latihan soal, akan tetapi, beberapa materi lain seperti relasi, fungsi, pohon, serta beberapa bahasan lain belum dapat kami sajikan. Oleh karena itu, kritik dan saran untuk perbaikan, dapat dilayangkan via email ke tenia@st3telkom.ac.id.

Buku ini diterbitkan atas kerjasama dengan kolega saya bu elisa usada sebagai penulis kedua. ayo membaca buku! *jangan lupa beli bukunya! 😀

weekend bersama scientist dan researcher di selisik, unpas

tanggal 27 dan 28 Mei 2016 yang lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri seminar nasional telekomunikasi dan informatika (selisik) di universitas pasundan, bandung. di dalam seminar tersebut, hadir pembicara utamanya Dr. Agung Harsoyo, dosen ITB (*beliau adalah pembibing tesis saya) yang membahas tentang security IT, dan direktur XL Axiata, Ibu Dian Siswarini. menurut para keynote speaker, operator telekomunikasi sering jadi kambing hitam para korban kejahatan IT, padahal, operator tidak pernah membocorkan data rahasia pelanggan. akan tetapi, kejahatan IT yang paling susah di tebak dan tidak disangka yang pernah terjadi justru muncul dari dalam. ancaman itu lahir dari karyawan yang kurang puas, sehingga oknum2 karyawan yang “nakal” justru membobol server sendiri, atau menanam virus berbahaya, yang akan aktif beberapa tahun setelah mereka resign. pengalaman yang nyesek ya sodara-sodara……

btw, sebagai pemakalah, saya pun ada gilirannya memaparkan ide-ide dan gagasan saya. bersama partner penelitian saya, bapak ridwan pandiya a.k.a ripan, kami membuat sebuah paper mengenai strategi dalam mencapai ranking webometrics berdasarkan perspektif cost.

berikut ini abstrak dari makalah kami,

Setiap perguruan tinggi, memiliki keinginan untuk menjadi World Class University. Salah Satu cara yang digunakan untuk menilai kualitas sebuah universitas adalah dengan melakukan pengukuran aktifitas civitas akademika di dunia maya, melalui domain web universitas yang disebut webometrics. Dalam rangka meningkatkan kinerja web universitas untuk mendukung terciptanya World Class University, maka diperlukan langkah-langkah optimasi pencapaian ranking webometrics. Langkah tersebut antara lain dengan menggunakan perhitungan dan pembobotan berdasarkan 4 faktor utama yaitu Visibility (V), Size (S), Rich Files (R) dan Scholar (Sc) berdasarkan kemampuan financial (perspektif cost) perguruan tinggi. Metode analisis dan sintesis yang digunakan untuk membantu proses pengambilan keputusan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan pendekatan Logaritmic Fuzzy Preference (LFPP). Metode LFPP ini melibatkan fungsi logaritma asli untuk memperbaiki kekurangan metode FPP. Pembobotan dilakukan dengan melibatkan pakar dan akademisi untuk menentukan tingkat kepentingan berdasarkan cost (biaya) yang dikeluarkan antara satu kriteria dengan kriteria yang lain, sampai pada sub kriteria terhadap sub kriteria yang lain. Penilaian tersebut kemudian dibuat ke dalam skala angka (biasanya skala 1 sampai 9), dan dibuat matriks perbandingan berdasarkan hirarki yang telah dibangun sesuai dengan persoalan yang akan diselesaikan, dan sesuai dengan perhitungan bobot prioritas. Dari hasil perhitungan, didapatkan ranking tertinggi yang direkomendasikan dalam menentukan langkah strategis pencapaian ranking webometrics  adalah faktor pemantauan ranking dari situs ahrefs(C332), penambahan jumlah link dari website lain (C321), penambahan jumlah halaman pada domain (C111), mengunggah materi pembelajaran dalam bentuk file pdf (C223) dan pemantauan ranking dari situs Majesticseo (C331).

 

kesimpulannya :

berdasarkan hasil pemeringkatan bobot sub kriteria pada perspektif cost, didapatkan rekomendasi sebagai berikut.

  1. Pemantauan ranking web universitas dilakukan dengan cara memantau situs  ahrefs.com, dari segi cost, situs tersebut menyediakan akses gratis bagi pengguna.
  2. Jumlah link unik yang merujuk pada web universitas, dapat dilakukan dengan memanfaatkan resource siswa PKL atau mahasiswa magang, untuk menekan biaya.
  3. Menambahkan jumlah halaman web, dapat dilakukan sendiri oleh unit atau bagian sisfo, sehingga menghemat biaya yang dikeluarkan.
  4. Untuk menambah rich files, setiap dosen diwajibkan mengunggah materi ajar ke blog masing-masing dengan ekstensi .pdf. Hal ini dirasa cukup murah, karena dapat dilakukan sendiri oleh dosen yang bersangkutan.
  5. Selain menggunakan ahrefs.com, pemantauan ranking webometrics dapat dilakukan secara periodik melalui situs majesticseo.com secara gratis.

 

nah, setelah mendapatkan beberapa masukan dari peneliti yang lain, seperti kenapa sih kok pake ahrefs itu murah, saya bilang ya karena gratis alias gretongan. cuma, untuk mendapatkan fitur2 yang lebih lengkap, kita harus langganan, dan langganan itu murah, kalo akunnya bisa dipake bersama dengan perguruan tinggi yang lain. dalam hal ini tel u dan akatel kita gandeng bersama, dan langganannya dibiayai oleh yayasan, murah kan? 😀

akhirnya, sebagai bentuk bukti fisik, bahwa saya benar2 ke bandung waktu itu, ini saya lampirkan foto2 saya….. *narsis dikit lah yaw

 

selisik

ini pak agung harsoyo…. 😀

selisik2

muka ngantuk, mata panda, seperti biasa

selisik3

all participants

 

 

sein nya ke kiri, beloknya ke kanan, dasar emak-emak!

meme emak

Pernahkah anda kesal pada ibu-ibu macam saya, yang naik motor matic, beloknya ke kiri, tapi lampu sein nya ke kanan? sampe-sampe supir truk berdoa supaya gak ketemu sama makhluk jenis emak-emak macem saya 😀

 

meme supir truk

Nah, udah lama sebenernya saya mau bahas ini, tapi baru sempet nulis ini sekarang. Jadi gini ya sodara-sodara, sebetulnya bukan kesalahan si emak-emak ini kalo saya rasa (ciyeeee gak terima…, tapi kesalahan desain dashboard pada sepeda motor matic yang beredar di Indonesia ini). Serius!, gak bercanda saya, sebagai seseorang dosen yang ingin menggeluti tentang user experience, saya menduga, kesalahan terbesarnya bukan mereka. Mari kita lihat berbagai jenis dashboard motor matic berikut ini.

sein suzuki nex

Dashboard motor suzuki nex (*kayak punya saya)

sein honda scoopy

Dashobard motor honda scoopy

sein yamaha

Dashboard motor yamaha mio

Perhatikan pada indikator lampu sein yang saya lingkari! tau apa artinya? yap! lampu sein yang idealnya ada dua, kanan dan kiri, hanya memiliki satu indikator saja! jadi jelas kan, pengguna sebenarnya tidak dapat melihat dengan baik, apakah dia sedang memutar tombol ke kanan atau ke kiri, bisa saja, karena asyik berkendara, mereka lupa telah menyalakan sein kiri, dan menganggap telah menyalakan sein, tapi tau-tau beloknya ke kanan. kesalahan simple yang FATAL akibatnya!

 

Ada satu motor matic keluaran honda, yaitu honda vario, lebih cerdas kayaknya, demi sebuah kenyamanan dan keamanan, mereka mendesain dashboard motornya seperti ini :

sein honda vario

Yuhuuuuuu, tepuk tangan buat honda vario!

BTW, motor-motor selain matic keluaran bbrp tahun terakhir, ternyata desain dashboardnya juga sama seperti motor matic diatas, indikator lampu sein nya cuma satu, contohnya suzuki titan punya adek saya (thn 2012). Mudah-mudahan ke depan, jangan ada meme bapak-bapak yang kaya emak-emak tadi ya! 😀

sein suzuki titan

 

So, salah gue? salah temen-temen gue? ya, jangan lalu nuduh trus nyalahin pengguna motor ya, soalnya, pengguna motor matic emang kebanyakan ibu-ibu. coba tuh pabrik motor agak-agak mikir dikit tentang desain yang ergonomis dan desain yang dapat meningkatkan user experience, juga memperhatikan usability desain nya, pasti gak bakalan ada kejadian kayak begini. Jadi, bukan karena saya ingin membela kaum ibu-ibu ya, tapi, yuk bikin sesuatu dengan mulai memikirkan dari sisi penggunanya!

Purwokerto, 17 Juli 2016

 

Jalan panjang menuju Ph.D student

Halo, selamat pagi. Hari ini saya ingin berbagi pengalaman  yang saya alami dalam rangka menuju menjadi Ph.D Student. Mudah2an yang saya bagikan ini bermanfaat bagi kalian semua ya…..

Tidak ada mimpi yang berlebihan. Mimpi itu gratis, dan silakan bermimpi setinggi tingginya. Sudah sejak lama, saya memimpikan untuk menjadi seorang Doktor. Sebagai seorang dosen, cita-cita terbesar saya adalah menjadi seorang guru besar, profesor. Kata ibu saya, profesor itu jenderalnya para dosen. Dan saya ingin mengejar impian itu. Setahun lalu, saya mulai bergerak untuk mewujudkan keinginan itu. Saya lihat, Lilo (anak bungsu saya) sudah besar, dan sudah bisa ditinggal pergi2 jauh. Dan inilah mungkin saat yang tepat untuk meraih harapan saya yang terpendam lama.

 

Menggali informasi sebanyak banyaknya

Yang pertama saya lakukan adalah mencari kampus idaman. Dan kampus incaran saya adalah UGM. Lama sekali saya mendambakan bisa kuliah disitu. Maka, saya mulai mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang dosen, fakultas, prodi, budaya, dan segala tetek bengek tentang UGM. Dan sampailah saya pada seorang teman, bernama Lukita Yulianti (teman masa kecil saya di Magelang) yang kebetulan suaminya kuliah di fakultas MIPA prodi Ilmu Komputer. Jadi, dia lah tempat saya bertanya segala macam tentang Ilmu Komputer. Hebatnya lagi, meskipun yang kuliah itu suaminya, dia bisa memberi gambaran detil tentang ujian masuk, memilih topik, sampai ke karakter dosen2 di Ilkom… 😀 (makasih ukiiiii).

Mencari topik penelitian

Kuliah S3 itu berbasis riset, jadi, jangan maju untuk mendaftar kalau belum tau mau meneliti apa. Nah, ngomong-ngomong soal riset, setahun lalu, sebenarnya saya masih bingung juga mau meneliti apa. Maka, saya mulai dari membaca bbrp file jurnal infotel yang pernah saya review. Kebetulan, saya pernah membaca satu topik menarik mengenai heuristic evaluation. Itu salah satu metode pengukuran perangkat lunak dari segi usability oleh para pakar. Yang belakangan saya tau, itu tulisan hasil karya kolega saya di SPM, dan adik kelas saya di ITB, dialah Emi Iryanti (tengkyu sistaaa). Karena saat me review itu kan pake metode blind review, jadi gak tau siapa penulisnya. Sekarang, saya jadi membayangkan, apa jadinya kalau saya gak baca paper itu? apa jadinya kalau saya gak me review paper itu? mungkin topik penelitiannya bukan tentang usability. Waktu itu bu Risa Farrid Christianti, Ketua LPPM kami sedang mencari seorang reviewer untuk jurnal INFOTEL, beliau kemudian menawarkan pada saya, dan saya bersedia. Beliau katakan, ini gak ada honornya, tapi saya bilang gak papa, buat pengalaman aja. Dan alhasil, saya menjadi satu-satunya reviewer junior yang mungkin kualitasnya jauh dari reviewer2 lain. BTW terima kasih bu risa, sudah memberi kesempatan saya menjadi reviewer sampai sekarang…..

reviewer

 

Menggali lebih dalam

Topik penelitian saya sudah mantap tentang usability, yang merupakan bagian dari ilmu Human Computer Interaction. Maka, yang saya lakukan adalah mencari paper yang berhubungan dengan topik itu. Selama hampir setahun saya mencari, download, saya baca, saya terjemahkan dan saya ringkas. untuk mengakses paper paper terbaru, saya minta bantuan bu Anggun Fitrian dan pak Arief Hendra, juga pak Agus Priyanto yang kebetulan punya akun ke jurnal IEEE dan jurnal ACM, sehingga saya punya paper2 baru dan gratis untuk memperkaya literatur saya. Makasih yaaaa, kalian luar biasssaaaaa…..

Beberapa paper dan materi tentang HCI juga saya baca, dan saya dapatkan dari dosen pembimbing saya dulu, Prof. Dr. Soedito Adjiesoedarmo, M.Kom, kebetulan beliau pengampu mata kuliah HCI di STMIK Widya Utama Purwokerto. Hubungan saya dengan beliau cukup dekat. Beliaulah yang merelakan teras rumahnya di perumahan dosen UNSOED Grendeng untuk kami ubah menjadi sebuah warung kecil, cukup untuk tambahan biaya kuliah selama di S1.

Teori-teori yang berhubungan dengan usability seperti TAM, perilaku manusia, juga saya kumpulkan dan saya baca. Paper-paper itu saya kumpulkan dari seorang Ph.D Student, pak Irwan Susanto, kolega saya yang sudah saya kenal sejak lama. Juga dari paper tugas2 mahasiswa dari bantuan seorang teman, dosen HCI Sisilia Thya Safitri sangat membantu saya. Thanks a bunch dear!

Ternyata, topik tentang usability sudah banyak dibahas, dan saya masih belum menemukan titik terang, di bagian mana saya harus membuat satu keterbaruan dari metode metode tersebut. Pada akhirnya, saya menemukan sebuah paper yang menyatakan, bahwa pengujian usability akan lebih efektif jika dilakukan dengan menggabungkan beberapa metode, dan saya menemukan, penggabungan pengujian oleh user dan pakar, sepertinya menarik dan belum banyak dibahas.

Carilah partner 

Pertemuan saya dengan seorang dosen lulusan Malaysia, Ridwan Pandiya, membuat saya semakin menuju ke sebuah titik terang. Kebetulan kami punya cita-cita yang sama (menjadi Ph.D), dan kami punya banyak kesamaan2 dalam menjalani hidup, juga dalam memaknainya. Lalu, sampailah kami pada obrolan tentang penelitian. Kami menjadi partner penelitian internal tentang webometrics dengan pendekatan metode logarithmic fuzzy preference programming. Sebenarnya, kami menggabungkan pengetahuan saya tentang webometrics dan pengetahuan dia tentang optimasi. Dan dari sini, muncullah ide untuk mengoptimalkan persoalan usability dengan pendekatan metode lfpp.

Mulailah menyusun proposal

Kesukaan saya pada dunia tulis menulis, entah itu nulis status, nge blog, bikin buku, bikin catatan di buku diary, ternyata banyak membantu saya dalam menyusun proposal. Biasanya, saya mulai dari menulis judul secara kasar, lalu turun ke latar belakang, metodologi sampai ke kesimpulan. Setelah selesai, mintalah orang lain membacanya, dan mintalah masukannya. Saat saya minta teman saya, bu Elisa Usada untuk membaca, dia memberi masukan tentang novelty saya kurang tajam, saya perbaiki lagi, dan sempat mengendap beberapa minggu sebelum saya submit ke UGM.

Carilah promotor

Dari hasil nge-poin web UGM, sampailah saya pada seorang dosen bernama Dr. Paulus Insap Santosa, beliau adalah pakar HCI, dan saya berharap beliau bisa membaca dan memberi masukan pada proposal saya. Tidak diduga, saya mendapatkan sebuah undangan untuk menghadiri seminar beliau, kiat menulis jurnal internasional, dan akhirnya kami berjumpa dalam sebuah pertemuan jamuan makan malam bersama teman-teman, terima kasih pak Danny Kurnianto dan pak Dadiek Pranindito yang sudah membuat acara itu sukses. Kebetulan yang luar biasa bukan? Kami banyak berbincang dan beliau memberi banyak masukan. Tapi, ternyata beliau ber home base di prodi teknik elektro, sehingga, tidak memungkinkan untuk menjadi promotor, akan tetapi, beliau bisa jadi co promotor saya.

Perjalanan mencari promotor saya lanjutkan dengan mengintip web ilmu komputer, dan saya menemukan Prof. Sri hartati, karena bidang saya ada hubungannya dengan kepakaran beliau, fuzzy logic. Beliau pun menyambut baik, meskipun belum sempat membaca proposal saya.

Buatlah sebaik mungkin

Akhirnya batas akhir pengumpulan proposal tiba, saya mencetak proposal sebanyak 7 buah, saya desain covernya se menarik mungkin supaya menggoda orang untuk membacanya. Saya jilid laminating dan pake ring biar berkesan “keniatan” saya, dan satu lagi, saya lampirkan lembar pemeriksaan dokumen anti plagiat menggunakan software plagiarism detector. Saya antar sendiri ke UGM, dan diterima oleh petugas administrasinya.

Proses tak akan membohongi hasil

Usaha yang tekun, hubungan baik dengan teman-teman, dan doa serta restu dari suami, keluarga, orang tua, mertua ternyata membuahkan hasil yang manis. Tanggal 29 Juni 2016, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa pascasarjana UGM fakultas ilmu komputer.

pengumuman

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, genap di usiaku yang ke 34 ini, Engkau berikan aku hadiah yang indah. Entah kenapa dari kemarin serasa dunia nampak lebih bersahabat, awan2 tersenyum riang, pohon2 seakan mengajak bersalaman, burung2 bernyanyi senang, seakan ikut merayakan kebahagiaan ini. Saat ini saya masih menunggu penetapan beasiswa dari DIKTI, mudah2an lolos dan di danai ya… 😀

Hari ini, saya diberikan satu perjalanan hidup, yang kalau saya telusuri lebih dalam lagi, inilah skenario Tuhan yang luar biasa, kebetulan-kebetulan itu begitu runtut dan indah. saya tahu hari hari ke depan untuk menjalaninya tidak akan mudah, tapi bukan berarti tidak dapat dilalui. Tetap Optimis, dan berprasangka baik pada Nya, karena sesungguhnya, Tuhan itu sebagaimana prasangka hambanya.

 

Purwokerto, 30 Juni 2016

 

Kiat sukses meraih skor PAPs (potensi akademik pascasarjana) diatas 550! (*masih a la saya)

Bagi kalian yang ingin melanjutkan studi pasca sarjana di UGM, beberapa persyaratan diantaranya adalah harus lulus tes PAPs (Potensi Akademik Pasca Sarjana). Untuk program magister, skor minimal 500, dan untuk program doktoral, skor minimal 550, *meskipun secara lugas tidak disebutkan di web admisi universitas, karena bagi yang skornya kurang dari itu, dapat mengulang kembali tesnya pada saat menempuh kuliah.

Selain sertifikat tes PAPs, kalian juga boleh menggunakan Sertifikat hasil Tes Potensi Akademik (TPA) BAPPENAS atau Tes Kemampuan Dasar Akademik Himpunan Psikologi Indonesia (TKDA HIMPSI) dibuktikan dengan sertifikat yang masih berlaku, yaitu maksimum 2 tahun dari tanggal dikeluarkannya sertifikat, (Syarat pendaftaran mahasiswa pascasarjada di UGM bisa dilihat disini).

Untuk TPA BAPPENAS, saya sudah pernah ikut pada saat mendaftar di ITB dulu, dan soal2nya hampir mirip kok sama PAPs nya UGM ini. Dan ini beberapa gambaran umum mengenai tes PAPs :

 

  1. Tes PAPs diselenggarakan oleh fakultas psikologi, unit pengembangan alat psikodiagnostika. Biasanya ada jadwal pelaksanaan tes yang telah ditentukan pada tanggal tanggal tertentu. Bisa dilihat disini.
  2. Soal tes dibagi menjadi 3 : kemampuan verbal, kemampuan kuantitatif, dan kemampuan penalaran.
  3. Kemampuan verbal terdiri dari sinonim, antonim, dan hubungan antara dua kata.
  4. Kemampuan kuantitatif terdiri dari soal hitungan sederhana, seperti prosentase, deret bilangan, dst
  5. Kemampuan penalaran terdiri dari soal-soal bergambar, seperti menebak pola berikutnya.
  6. Sebelum melakukan tes, siapkan fisik dan mental. Berlatihlah soal-soal PAPs, atau soal-soal TPA, karena hampir sama isinya.
  7. Baca vocab sinonim, antonim yang biasa digunakan dalam tes potensi akademik.
  8. Bawa alat tulis (pensil 2B, penghapus, pulpen), kartu tes, KTP dan foto 3 x 4.
  9. Dalam tes PAPs, anda tidak diharapkan untuk dapat mengerjakan semua soal, tapi yang paling penting adalah, anda mengerjakannya dengan teliti dan tepat. Karena memang soal yang di desain cukup banyak dengan waktu yang minim.
  10. Karena hasil tes diumumkan setelah kurang lebih 2 minggu, pastikan anda memilih jadwal yang tepat, jangan mepet waktu pendaftaran ya!

daaaan, tarraaaaaaa, hasil PAPs saya sudah bisa dilihat seperti ini

paps ugm

soal-soal yang saya pelajari 3 hari sebelum tes bisa di download disini :

latihan-tpa-snmptn-2011

latihan-tpa-snmptn-2011-kunci

latihan-tpa-snmptn-2012-kode-01

latihan-tpa-snmptn-2012-kode-02

soal-tpa-snmptn-2009-kode-192

soal-tpa-snmptn-2009-kode-392

soal-tpa-snmptn-2009-kode-394

 

Finally i am losing weight about 7 kg!

celana jins

Mungkin banyak yg tanya kenapa skr saya agak kurusan…

Selama bbrp bulan terakhir, saya mulai menyadari pentingnya kesehatan. Alhamdulillah saya didekatkan dgn teman2 yg peduli dengan pola hidup sehat. Saya kenal pilates dan mulai menyukai olah raga ini dari Sisilia Safitri
Sejak akhir thn 2015 saya rutin olahraga 2 kali seminggu. Soal pola makan, saya mengikuti anjuran bu endang budiasih ttg hypno slimming ala rosul, makan setelah terasa lapar, dan berhenti sebelum kenyang. Lagi pula, alhamdulillah dkt sama teman2 yg suka makanan sehat seperti bu dwi januarita dan pak ridwan pandiya. Itu aja. So simple. Gak pake jamu. Gak pake diet. Gak pake ribet.

*mudah mudahan sehat terus ya
*kalau saya bisa, anda juga pasti bisa
*masih hrs berjuang sekitar 5 kilo lagi biar ideal
*ukuran celana turun 2 nomer